Blog

PENTINGNYA TAREKAT/TASAWUF 

Tarekat itu sangat luas. Saya tekankan, tarekat tidak bisa dilepaskan dengan syariat. Sholat, zakat dan haji adalah syariatillah. Dalam tarekat itu disebut menjalankan syariatillah. Yang dimaksud disini adalah tarekatul ihsan-tarekat yang mengajarkan jalan kebajikan. Jangan salah membedakan syariat dan tarekat.

.

.

Suatu hari, bertanya sahabat Ali kepada Baginda Nabi, ”Ya Rasulullah, ajari kami jalan terbaik mendekatkan diri kepada Allah.” (karena pada saat bertanya ada satu keterangan tentang bab iman, Islam dan ihsan).

.

.

Kata Rasulullah, bersembah sujudlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Bila tidak mampu melihat, merasalah dilihat dan didengar oleh Yang Maha Kuasa.Mampukah kita menumbuhkan perasaan yang demikian dihati kita?

.

.

Saya tidak mau mengatakan orang lain, tapi saya katakan diri saya sendiri. Saya itu kalau takbiratul ihram “Allahu Akabar” pada waktu itu saja ingat seolah-olah menghadap Allah. Tapi setelah membaca Iftitah, bahkan waktu membaca Al Fatihah, kadang hati dan pikiran kita terbang melayang. Tidak merasa bahwa kita sedang dilihat dan didengar oleh Allah SWT. Menurut syariat, salat seperti itu sudah sah. Sebab syariat hanya mengatur bagaimana wudhunya tidak batal, pakaiannya yang dipakai itu sah. Itu cukup memenuhi kriteria ‘syariat’.

.

.

Sedangkan di dalam kriteria kacamat ‘tarekat’, tidak. Tarekat mengatur bagaimana hati kita pada waktu menghadap Allah SWT, harus bersih dari yang lain. Sehingga merasa betul-betul bersih untuk bersembah sujud. Mampukah kita waktu sujud itu merasa sebagai hamba yang fakir?

“Tiada yang wajib aku sembah melainkan Engkau.” Dan waktu bersembah sujud merasakan kekurangan yang ada pada diri kita. Nah itulah tarekat. Itulah yang dimaksud ihsan.

.

.

Sehingga Sayidina Ali diajar Baginda Nabi, pada waktu menanyakan cara mendekat kepada Allah, Rasulullah bersabda, “Pejamkan matamu duduk yang baik dengan bersila.” Lalu ia ditalkin oleh baginda Nabi, “Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah Muhammadun Rasulullah, SAW”.

.

.

Dari situ lahirlah yang dikenal ijazah zikir/ba’iat, seperti yang diajarkan Baginda Nabi SAW. Jika saja menjalankan ilmu syariat saja sudah dianggap cukup, mana mungkin Rasulullah SAW mengajarkan hal itukepada Sayidina Ali.kwj? Padahal kita tahu siapa sebenarnya Sayidina Ali maupun para sahabat yang lain (ketinggian derajatnya disisi Allah dan Rasul-Nya).

.

.

Jadi harus dipisah, mana syariat mana tarekat. Dalam syariat, berwudhu hanya sampai batas berwudhu, yang memenuhi syarat dan rukunnya saja. Menjaga wudhu agar tidak batal ; kentut, atau bersentuhan dengan selain muhrimnya. Itu syariat. Tarekat tidak.

.

.

Anda dituntut menggunakan wudhu, bukan sekedar untuk shalat. Bagaimana akhlak orang berwudhu. Ketika kita sedang mengambil wudhu itu ada akhlaknya, ada adabnya. Bisakah wudhu membuat kita malu kepada Allah bila bermaksiat. Sedangkan tidak wudhu saja kita malu bermaksiat apalagi menggunakan air wudhu.

.

.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan Al Muktabarah adalah tarekat yang asalnya dari Baginda Rasulullah Saw. Ada jalurnya, istilahnya ada sanad atau silsilah. Ada tali temali, dari Baginda Nabi, sahabat lalu kepada awliya-awliya-Nya.

.

.

Untuk pertanyaan yang terkait dengan ilmu fiqih, harus diketahui bahwa ilmu fiqih harus dipelajari terlebih dahulu oleh orang yang mau belajar ilmu Tasawuf/Tarekat. Mereka ini hendaklah belajar ilmu syariat dulu dengan matang. Setelah itu baru melangkah ke dunia tarekat, terus tasawufnya.

.

.

Tarekat tasawuf dan tarekat dzikir itu hal yang berbeda. Kita harus mencapai tarekat dzikir agar mencapai derajat ‘Ihsan’. Karena tarekat tasawuf memerlukan orang yang alim betul dan cukup ilmunya. Kalau kita tidak mampu memahami dunia tasawuf, akibatnya bisa menyimpang. Terutama untuk memahami perkataan orang yang dekat dengan Allah (kaum Muqarabbin). Mereka ini kerap memakai bahasa yang tinggi, yang sukar dicapai pemahamannya dengan pengetahuan yang terbatas hanya syariat saja.

.

.

Tarekat akan menuntun kita memahami Ihsan. Dari sinilah kita belajar ilmu tarekat. Dan tidak harus mengatakan bahwa ilmu tarekat adalah ilmu wali. Itu tarekat tasawuf, jadi tasawufnya dahulu. Kita mencapai ihsannya dahulu. Agar tidak tergolong manusia yang lalai kepada Allah Ta’Ala, termasuk untuk menyambung hubungan antara sholat Subuh dan sholat Zuhur, sholat Zuhur dan sholat Ashar, sholat Ashar dan shola Maghrib, sholat Maghrib dan sholat Isya, kita mesti bertanya, ditengah-tengah salat itu ada apa, kita berbuat apa. Perbuatan kita itulah yang mengindikasikan apakah kita tergolong lalai atau tidak ? Nah, tarekat berperan disitu. Yaitu, agar ada kaitan misalnya antara Subuh dan Zuhur. Lantas menerapkannya pada realitas perbuatan kita terhadap sesama. Jangan sampai kita hanya merasa dilihat dan didengar Allah hanya pada saat mengucap Allahu Akbar, takbiratul ihram ketika sholat.

.

.

Kalau anda bertanya apa hukum bertarekat, ada dua jawaban. Pertama, kalau bertarekat dengan dasar supaya banyak zikir, maka itu hukumnya sunah. Kedua, kalau dasarnya untuk menjauhkan hati dari sifat yang tidak terpuji, seperti lalai kepada Allah hingga menimbulkan takabur, sombong, hasut, dan dengki, dalam hal ini hukumnya menjadi wajib.

.

.

Bai’at dalam tarekat adalah mengambil janji/sumpah setia. Sebagaimana sahabat mengambil janji terhadap Nabi SAW. Pertama, yaitu janji meninggalkan perbuatan dosa besar dan mengurangi dosa kecil. Mengapa kita mengurangi dosa kecil? Karena dosa kecil bermula dari kelalaian dan menganggap enteng/remeh sesuatu amalan. Sehingga disebut mengurangi, supaya kita betul-betul tidak lalai, walaupun sekecil apapun.

.

.

Kedua, janji taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Awliya-Nya (para Wali Allah) dan ulama-Nya, menta’ati Al Quran dan hadis, mentaati negara dan pemerintahan. Ini yang disebut bai’at. Baik antara pribadi dan Tuhannya, maupun pribadi dan Rasul-Nya SAW.

.

.

Mengamalkan awrad atau wirid sebaiknya yang diijazahkan, tidak secara ikhbar atau pemberitaan(kabar, seperti yang tertulis di kitab/buku-buku). Apalagi tidak melalui talkin (pengajaran langsung) dan bai’at, dan tidak melalui guru yang jelas. Sedangkan suatu ijazah, doa ataupun membaca kitab tanpa guru, kadang akan salah memaknainya. Termasuk tujuan yang ada didalam kitab. Karena kita hanya memahami secara pribadi, sebatas kemampuan sendiri. Maka sebaiknya melalui guru, supaya kita tahu benar maksud-maksudnya (atas apa yang tertulis tertuang dalam kitab tersebut).

.

.

Kalau dasarnya ada kemampuan, mengamalkan dua tarekat sekaligus silahkan saja. Kalau tidak, tolong satu saja, karena itu lebih baik. Sebab tarekat mempunyai madad (pertolongan) dan asrar (rahasia) yang berbeda. Dikhawatirkan, dua magnet yang berbeda ini menimbulkan ketidak stabilan. Itulah maksud para ulama menduakan tarekat. Disinilah masalahnya.

.

.

.

[Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, (Pekalongan) Ra’is Am Idarah ‘aliyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah] 

Kisah Nabi Yusuf alaihi sallam dan Bazigha 

Seorang wanita jelita nan kaya raya terpesona akan keindahan Nabi Yusuf alaihi salam yang ramai dibicarakan orang. Rasa kagum tersebut membawanya menemui sang pujaan. Mata menjadi silau dan bibir pun menjadi kelu; sorot mata sang pujaan menghujam kalbu sehingga kata-kata tak mampu melukiskan sebuah ketakjuban.
.

.
Bazigha, demikian nama wanita tersebut, jatuh pingsan dibuai pesona dan keindahan Nabi Yusuf. Lepas dari puncak keterpesonaannya, Bazigha bangun dan berlutut seraya memuja ketampanan dan keindahan Nabi Yusuf.

.

.
Nabi Yusuf melangkah mendekati Bazigha. Diiringi senyumnya yang menawan, Nabi Yusuf menasehati Bazigha,

.

.
“Ketika matamu melihat keindahan dunia ini, sesungguhnya itu adalah sepercik tanda (ayat) tentang Dia. Makhluk yang indah hanyalah sekuntum bunga nan mekar di sebuah taman Allah yang luas tak bertepi. Jika matamu mampu melihat di balik kesempurnaan itu, tentulah engkau akan melihat bahwa kuntum bunga itu tak lain hanyalah cermin yang memantulkan gambaran wajah-Nya.

.

.
Nabi Yusuf melanjutkan kalimatnya yang menghentak kesadaran sang jelita, 

.

.
“Penampilanku pada hakekatnya adalah bagaikan kuntum bunga itu; pantulan wajah Ilahi. Namun engkau mesti menyadari bahwa gambar akan memudar, kuntum bunga akan beranjak layu dan pantulan cermin pun akan tertutup oleh cahaya Ilahi. Hanya Allah yang hakiki dan abadi.”

.

.
Untuk itu, duhai Bazigha… Mengapa engkau buang waktumu untuk mengagumi sesuatu yang akan lenyap danpudar. Pergilah langsung ke sang Sumber tanpa menunda-nunda lagi.”

.

.
Bazigha terperangah. Boleh jadi dia terkejut mendapati bahwa sosok nan sempurna di hadapannya ternyata tidaklah hakiki; hanya sekuntum bunga yang akan layu dan pantulan cahaya yang tertutup oleh kebesaran Sang Maha Cahaya; Cahaya di atas Cahaya (nur ‘ala nur).

.

.
Keterpesonaannya ternyata baru pada level “aksesoris”; belum “substantif”. Boleh jadi kita seperti Bazigha. Kita terpesona pada hal-hal yang tidak hakiki.

.

.

Lihatlah diri kita… Betapa kita terpesona akan gelar akademik yang kita miliki, harta dan anak yang menemani kita, istri cantik yang melayani kita bahkan sandang, pangan dan papan yang menjadi incaran kita.

.

.

Seperti Nabi Yusuf yang menasehati Bazigha, mengapa kita tidak langsung berjalan menuju sumber segala pesona. Mengapa kita habiskan waktu kita hanya untuk mengejar kenikmatan kuntum bunga yang akan layu. Lepaskan ego diri kita, buang rasa takjub kita, dan berjalanlah menuju-Nya.
Boleh jadi di ujung perjalanan nanti, kita akan terkejut melihat keindahan-Nya yang hakiki nan abadi. Pada mulanya adalah kekaguman; dan pada akhirnya adalah:

Subhanallah! Maha Suci Allah …
(Sumber: Jalan Sufi)

Bughats

​BUGHATS
Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do’a yang selalu ia lantunkan.

Ia selalu mengucapkan do’a seperti berikut ini,

.

.
“Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.”

.

.
Apakah bughats itu? Dan bagaimana kisahnya?

.

.
“Bughats” adalah anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut “bughats”. Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).

.

.
Apa perbedaan antara bughats dan ghurab? Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.
Saat induknya menyaksikannya, ia tidak terima bahwa itu anaknya, hingga ia tidak mau memberinya makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

.

.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang. Lalu, bagaimana ia makan dan minum untuk bertahan hidup??

.

.
Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan aroma tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya.
Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya.

Masya Allah…

.

.
Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.
Ketika itu barulah gagak mengetahui itu adalah anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuh anak gagak itu pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya, seiring pertumbuhannya.

.

.
Dialah Allah, Ar Razaq, Yang Maha Penjamin Rezeki….
 نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا…
Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia…

(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

.

.
Rezekimu akan mendatangimu dimana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:
“Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan mena’atinya.”

.

.
Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

.

.
Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum.
Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat, itulah sikap selayaknya seorang muslim.

.

.
“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

.

.
Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata’ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah, kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nikmat.

.

.
Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata’ala.

.

.
Selamat bekerja. Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan dalam mencari karunia Allah Subhanahuwata’ala di atas muka bumi ini. Aamiin yaa Rabbal alaamiin🙏
#sufi #tasawuf #hikmah
(Cafe Rumi Jakarta)

Kisah Lucu dan Sedih sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu

​Kisah Lucu dan Sedih sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Suatu ketika Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, Rasulullah berkata pada Umar bin Khattab.
“Coba ceritakan kepadaku kisah yang bisa membuat aku ketawa dan membuat aku menangis.”
Kemudian Umar bin Khattab pun bercerita.
“Dahulu sebelum aku mengenal Islam, aku membuat patung berhala dari manisan. Lalu aku pun menyembah patung manisan itu. ‘Demi Lata Uzza Mannat, Engkau lah yang mulia, beri aku makanan sebagai rezeki darimu,’ kataku. Waktu itu aku menyembah patung namun perutku sedang lapar.
Selesai menyembah berhala aku menuju ke dapur, tidak aku dapatkan makanan di sana lalu aku kembali ke ruangan persembahyangan. Tidak ada makanan selain Tuhan sesembahanku, akhirnya dengan rasa sesal aku memakan Tuhanku sendiri yang ku sembah-sembah sebelumnya. Aku memakan berhala tersebut bermula dari kepalanya, terus tangannya hingga habis tidak tinggal. “
Mendengar cerita sayyidina Umar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya, Baginda bertanya, “Di mana akal kamu masa itu?”
Sayyidina Umar menjawab, “Akal kami memang pintar tetapi sesembahan kami yang menyesatkan kami.”
Rasulullah kemudian berkata kepada Umar. “Ceritakan kepadaku hal yang membuat aku menangis.”
Umar pun memulai ceritanya.

“Dahulu aku punya seorang anak perempuan, aku ajak anak tersebut ke suatu tempat, tiba di tempat yang aku tuju, aku mulai menggali sebuah lubang. Setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku, maka anak perempuanku akan membersihkannya. 
Dia tidak mengetahui bahwa sesungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup, untuk persembahan berhala.
Selesai menggali lubang, aku mencampakkan anak perempuanku ke dalam lubang. Burrr …. dia menangis kuat sambil menatap wajahku. Masih terngiang-ngiang wajah anakku yang masih tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya sendiri dari bawah lubang.“
Mendengar cerita itu menitislah air mata Rasulullah. Begitu juga dengan sayyidina Umar yang menyesali perbuatan jahiliyyahnya sebelum dia mengenal Islam.
(Dari berbagai sumber)

Rahasia surat Ar-Rahman 

​Salah satu surat di dalam Al-Quran yang memiliki banyak keutamaan ketika dibaca dan direnungkan adalah surat Ar- Rahman.
Surat Ar-Rahman merupakan surat ke- 55 dalam Al-Quran. Surat ini tergolong dalam surat Makkiyah, terdiri atas 78 ayat.
Dinamakan Ar-Rahman yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar- Rahman yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah Subhanahuwata’ala. Isi dari sebagian besar surat ini menerangkan sifat Maha Pemurah Allah Subhanahuwata’ala kepada para hamba-Nya, yakni dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Ada yang menarik dari surat Ar- Rahman, yaitu adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi:
“Fabiayyi ‘alla ‘irobbikuma tukadzdziban”  yang berarti, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.
Ayat ini disebutkan dalam surat Ar-Rahman sebanyak 31 kali. Pengulang ayat tersebut terdapat pada:

ayat ke 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.
Jika surat ini dikaji dari segi numerologinya, maka akan ditemukan keindahan rahasia yang ingin Allah sampaikan kepada kita terkait rasa syukur yang seharusnya dimiliki setiap jiwa.
Angka 31 jika dikaitan dengan surat ke 31 dalam Al-Quran maka akan ditemukan surat Luqman. Kita akan semakin takjub dengan isi dari ayat ke 31 dalam surat tersebut, berikut ini artinya:
“Tidaklah engkau  memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.”
Dua surat ini, tentu memiliki keterkaitan jika dihubungkan dengan syukur. Allah Subhanahuwata’ala ingin menunjukan kepada kita bahwa kapal yang berlayar di lautan merupakan tanda kebesaran-Nya berupa nikmat.
Allah Subhanahuwata’ala ingin menegaskan bahwa manusia yang tidak memiliki perangkat untuk bisa berjalan di air, ternyata mampu melakukannya dengan perantara alat, yaitu sebuah kapal yang mengapung di atas air.
Jika dikaitkan ke surat Ar- Rahman, “Jadi nikmat Tuhan mana yang akan kita dustakan?” Dalam kalimat tersebut, menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata dusta bukan ingkar.
Dusta memiliki makna menyembunyikan kebenaran, sangat dekat dengan kesombongan yang sering kali menolak kebenaran dan menyepelekan hal lain kecuali kepentingan diri.
Sebagai contoh: Bukankah sebagian manusia bila mendapat uang banyak, lalu mereka akan berkata bahwa itu hasil kerja keras mereka sendiri?

Padahal selalu ada campur tangan Allah Subhanahuwata’ala dalam setiap pencapaian yang didapatkan.
Kalau kita sukses, apa karena kita yang giat bekerja, dan tekun? Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena kita pandai menjaga makan dan rajin berolahraga?Semua kenikamatan yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita. 
Bahkan tanpa kita sadari kita lupa peranan Allah Subhanahuwata’ala di dalamnya. Sering kali kita sepelekan kehadiran Allah akan semua keberhasilan kita dan mendustakan bahwa sesungguhnya kenikmatan itu semuanya datang dari Allah.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?”
Allah Subhanahuwata’ala berfirman yang artinya, “Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya”

(QS. An-Nahl 16:18).
Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahuwata’ala dan mengucapkan Alhamdulillah. Berhentilah mengeluh dalam kehidupan ini, jalani hidup ini dengan rasa ikhlas sebagai bagian dari rasa syukur kita kepada Allah Subhanahuwata’ala.
(Berbagai sumber)

Sebuah kisah di Musim Bunga yang Pertama 

Semesta bersenandung gembira, menyambut kedatangan kelahiran nabi tercinta, pada hari Senin, bulan Rabi’ul Awwal. Tanggal 12 menjelang fajar, 1400 tahun lalu, cahaya ILLAHI menerangi setiap jengkal semesta raya, laksana bintang gemintang yang berkerlip indah di kepekatan malam.
Laksana purnama yang menenggelamkan gelap dalam ranum cahaya. Laksana mentari yang mengusir malam ke peraduannya. Menyambut kelahiran bayi agung, yang akan membawa peradaban baru yang kilau kemilau.
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia pertama yang diciptakan secara maknawi, tapi menjadi nabi terakhir yang diutus ke alam duniawi.
Ucapannya adalah wahyu, langkahnya menjadi tarekat, perilakunya cermin keteladanan.
Muhammad, sang Kekasih Allah, belaian tangannya menentramkan gundah anak anak yatim, kemurahan hatinya menyalakan obor kehidupan janda janda miskin, dan mengajarkan kemuliaan dalam kebersahajaan.
Keagungan jiwa sang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diakui kawan maupun lawan. Keberaniannya menggetarkan singa padang pasir, kelembutannya laksana belaian kasih seorang ibu.
Beliau begitu dicintai penghuni langit dan bumi, hingga potongan rambut dan air ludahnya yang harum pun tak pernah sampai menyentuh bumi, karena diperebutkan sahabat sahabatnya.
Begitulah Abu Sufyan menceritakan perihal Muhammad menjelang Fath Makkah, pembebasan kota Makkah.
Tubuhnya termasyhur memancarkan keharuman alami. Jika tangannya menyentuh kepala seorang anak, orang akan segera tahu bahwa ia baru saja disentuh Rasulullah.
Semesta raya memanjatkan doa, mengucap salam dan memohonkan kasih Allah baginya. Bahkan Sang Pencipta sendiri ikut mengucapkan salam kepadanya.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat Nya bersholawat untuk Nabi (Muhammad). Wahai orang orang yang beriman, bersholawatlah kamu sekalian untuk Nabi, dan berikan salam penghormatan untuknya.”

(QS. Al-Ahzab ayat 56)
Kehadiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di bumi adalah anugerah yang membuat butiran butiran pasir dan debu gurun menjadi laksana mutiara.
Jejak langkahnya menyejukkan padang tandus, menjadi laksana taman surga yang membangkitkan rindu untuk selalu mengunjungi.
Pengetahuan yang diajarkannya terus menerus mengalirkan hikmah dan kearifan, laksana zamzam yang tak pernah kering sepanjang zaman.
Pemimpin manakah yang dalam keadaan sakit menjelang wafat berkata, “Wahai manusia, barang siapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, balaslah! Barang siapa kehormatannya pernah kucela, inilah kehormatanku, balaslah! Dan barang siapa hartanya pernah kuambil, inilah hartaku, ambillah!Jangan takut akan permusuhan (akibat penuntutan balas ini), karena itu bukan waktuku.”
Hari itu, 63 tahun setelah kelahirannya, semua sahabat tertunduk haru mendengar pemimpin besar yang mereka cintai membuka diri untuk menerima tuntutan balas dari pengikutnya. Sebuah sikap yang menunjukkan pencapaian spiritual dan emosional tertinggi seorang manusia.
Kini, setelah 14 abad beliau lahir, beliau tetap dikenang sebagai nabi yang agung, pemimpin yang adil, panglima yang gagah berani, penguasa yang penuh kasih, pedagang yang jujur, suami yang santun, dan ayah yang bijak.
Beliau memang manusia, tapi bukan seperti manusia yang lain. Beliau laksana mutiara di antara bebatuan semesta.
Rabi’ul Awwal, yang artinya musim bunga yang pertama, dikenal sebagai bulan Nabi. Karena pada bulan inilah beliau lahir, tepatnya pada hari Senin.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang sahabat mengenai kebiasaan beliau berpuasa di hari Senin, “Hari itu adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.”

(HR. Muslim)
 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِدِّنَ مُحَمَّد وَ عَلَى آلِ

 سَيِدِّنَ مُحَمَّد
(sumber: Thobiby Qolby)
#HappyMaulid #MaulidDay #gerakancintarasul #Muhammad #Rasulullah